PERSPEKTIF KOMUNIKASI AUBREY FISHER
PERSPEKTIF MEKANISTIS
Menurut para ahli teori dan filsuf ilmu, perkembangan ilmu sosial sangat banyak terpengaruh dari ilmu fisika. Dalam perspektif ini lebih menekankan kepada unsur-unsur komunikasi, baik proses penyampaiannya maupun proses penerimaan pesannya, dan memandang bahwa saluran sebagai fungsi penting komunikasi. Pada abad ini, dominan ilmu fisika merupakan perspektif mekanistis, atau dengan kata lain “fisika klasik”.
Model Perspektif Mekanistis Komunikasi Manusia
Dalam sebuah proses penyampaian komunikasi, saluran mendapatkan peran terpenting karena dengan saluran semua komponen dalam proses ini menjadi bekerja. Karena secara jelas perspektif mekanistis menempatkan komunikasi bulat- bulat pada saluran.1
Encoding merupakan proses pentransformasian pesan dari satu bentuk ke bentuk yang lain pada saat penyampaian. Sedangkan pengalihan sandi atau decoding merupakan proses pentransformasian pesan dari satu bentuk ke bentuk yang lain pada saat penerimaan atau di titik tujuan.2
Jika dalam sebuah proses komunikasi terdapat lebih dari dua komunikator, maka akan diperlukan penjaga gerbang atau gate keeping. Istilah ini di kenalkan oleh Kurt Lewin (1951) dalam teorinya. Penjaga gerbang dapat berupa sesorang, kelompok, media cetak atau elektronik, dan lain sebagainya yang dapat berfungsi menyampaikan pesan dari satu sumber ke sumber lainnya. Penjaga gerbang berfungsi menerima, mengatur, memodifikasi pesan, serta menyampaikan pesan kepada seorang penerima.
Doktrin Doktrin Mekanisme
Pada umumnya perspektif ilmiah,mekanisme berawal dari sebuah keadaan yang ideal, yakni penganut paham mekanistis berpegangan pada asumsi epistemologis (suatu cabang dari filsafat yang mengkaji dan membahas tentang batasan, dasar dan pondasi, alat, tolok ukur, keabsahan, validitas, dan kebenaran ilmu, makrifat, dan pengetahuan manusia)3 dan aksiologis tertentu tentang keadaan dunia. Keadaan yang ideal merupakan asumsi – ia lebih merupakan kebenaran yang analitis daripada yang empiris.4
Kuasi-Kausalitas
Para ahli teori dan filosof (misalnya, Bregmann, 1957) sering mengasosiasikan mekanisme dengan kuasalitas ; idealisme mekanistis menganggap kuasalitas yang menyebabkan adanya hubungan prinsipal antar konsep atau fenomena dalam pengertian bahwa suatu pernyataan teoritis, yang dikemukakan secara mekanistis, akan mengharuskan, ”A menyebabkan B”.5
Transivitas Fungsi
Transivitas fungsi memiliki dua arti penting. Pertama, fungsionalisasi mekanistis bersifat linear, yaitu A mempengaruhi B, B mempengaruhi C, C mempengaruhi D, dan seterusnya, maka fungsionalisasi mekanistis bersifat linear. Prinsip kedua dari transivitas fungsi berkaitan dengan identitas fungsional dari setiap komponen submekanisme itu sendiri. Artinya dalam sebuah mata rantai seperti halnya mata rantai lainnya, jika ada yang mengalami kerusakan tetap harus diganti. Namun, setiap fungsi yang dijalankan oleh mata rantai tetaplah sebuah fungsi yang independen.
Oleh karena itu mekanisme dapat berupa kuasi kausal. Jika mekanisme dan fungsionalisme disatukan maka fungsi komponen mekanistis secara transitif saling berhubungan satu sama lainnya. Dengan kata lain, idealisme mekanistis mengandung asumsi transivitas.
Eksistensi Material dari Komponen
Salah satu jabaran pokok fisika klasik adalah eksistensi material dari wujud tertentu.yakni mekanisme berpendapat bahwa alam terbentuk dari wujud material dengan bentuk material dan unsur yang strukturnya dapat ditentukan dan saling berhubungan satu sama lainnya yang dalam ilmu fisika adalah ada aksi dan reaksi.
Mekanisme menunjukkan adanya konsepsi materialisme, yakni wujud-wujud yang dikonseptualisasikan sebagai materi. Implikasinya adalah wujud itu sendiri bertahan sepanjang waktu sebagai substansi material, kedua, dari materialisme pemberian tekanan pada aksi fisik.
Reduksionisme
Reduksionisme adalah suatu proposisi tambahan yang barangkali secara kebetulan dapat membuktikan mekanisme bahwa semua wujud memiliki atau dipandang mempunyai eksistensi material/fisik.6 Asumsi reduksionisme adalah apa yang ada dalam realitas dapat di analisis ke dalam unit-unit yang semakin kecil.
Doktrin ini juga membuktikan bahwa semua wujud dipandang memiliki eksistensi material atau efek yang mempertegas doktrin eksistensi material. Reduksionisme juga memudahkan peneliti untuk menemukan dampak interaktif yang esensial bagi penelitian yang ekperimental.
Model Mekanistis
Perspektif komunikasi yang dianut oleh sebagian besar orang, termasuk orang awam maupun para ahli berisi dosis mekanisme yang kuat.7
Jika meninjau komunikasi dgn perspektif mekanistis sama saja artinya dengan bentuk pengalihan atau transportasi lintas ruang dari satu titik ke titik lainnya. Cara atau sarana pengirimannya, yakni, jalan yang dilalui oleh pesan, yang biasa disebut dengan saluran. Saluran ini menghubungkan titik asal pesan/sumber/pengirim, ke titik tujuan/penerima atau responden. Karena komunikasi khususnya melibatkan pertukaran pesan yang kontinu, maka sumbernya menjadi si penerima dan si penerima menjadi sumber pada saat yang sama dan berlangsung secara simultan.8
Unsur penyampaian adalah titik sentral dari model mekanistis komunikasi. Dan setiap komponen komunikasi terletak pada salurannya. Oleh karena itu para komunikator saling dihubungkan oleh adanya saluran. Saluran juga memiliki arah sebagaimana analogi jam berjalan. Pesan mengalir dari seseorang atau komunikator kepada penerima pesan dalam arah tertentu, yang akhirnya memberikan dampak pada ujung penerimaan. Kelinieran arah saluran ini mendorong penyimpulan kuasi kuasalitas, yakni bahwa suatu sumber atau pengirim pesan mempengaruhi penerima pesan/responden.
Hambatan dan Kegagalan
Hambatan berbeda dengan kegagalan, hambatan tidak memberhentikan komunikasi tetapi ia menimbulkan sedikit atau beberapa kesulitan dalam menyampaikan pesan. Sedangkan kegagalan komunikasi memiliki fungsi psikologis untuk memperburuk keadaan.
Tetapi kita lebih sering sangat menyederhanakan kerumitan komunikasi manusia dalam kehidupan daripada memahami bahwa ada kekuatan yang bekerja yang akhirnya membentuk pemahaman kita akan komunikasi manusia.
Kesimpulan
Perspektif mekanistis komunikasi manusia menekankan pada unsur fisik komunikasi, penyampaian dan penerimaan arus pesan seperti ban berjalan di atas sumber/ para penerimanya. Mekanisme merupakan perspektif yang paling sering dianut oleh para ahli yang minat utamanya bukan pada komunikasi manusia, namun begitu jejak perspektif mekanistis merasuki sejumlah besar penelitian komunikasi.9
Untuk memahami komunikasi manusia, kita perlu memahami juga mekanisme sebagai suatu perspektif, namun ia bukanlah menjadi satu-satunya perspektif. Tetapi tidak salah, jika masih banyak orang yang menggunakan perspektif ini untuk memahami fenomena komunikatif, kita pun perlu memahaminya.
PERSPEKTIF PRAGMATIS
Pada awalnya filsafat pragmatisme ini dibangun bukan untuk memberikan penjelasan tentang pendidikan. filsafat ini murni menanggapi permasalahan pengetahuan. Akar dari pragmatisme tidak lain adalah filsafat Empirisme yang pertama kali di deklrasikan oleh Aristoteles. Kemudian diteruskan oleh David Hume dan teman-temannya. Sehingga sampailah pada pemikir-pemikir pragmatis ini.
Istilah pragmatisme berasal dari kata Yunani “pragma” yang berarti perbuatan atau tindakan. “isme” di sini sama artinya dengan isme-isme yang lainnya yaitu aliran, ajaran atau paham. Dengan demikian pragmatisme adalah ajaran yang menekankan bahwa pemikiran itu menuruti tindakan. Kreteria kebenarannya adalah “faedah” atau “manfaat”. Suatu teori atau hipotesis dianggap oleh pragmatisme benar apabila membawa suatu hasil. Dengan kata lain, suatu teori adalah benar if it works ( apabila teori dapat diaplikasikan).
Pragmatisme adalah aliran pemikiran yang memandang bahwa benar tidaknya suatu ucapan, dalil, atau teori, semata-mata bergantung kepada berfaedah atau tidaknya ucapan, dalil, atau teori tersebut bagi manusia. Ide ini merupakan budaya dan tradisi berpikir Amerika khususnya dan Barat pada umumnya, yang lahir sebagai sebuah upaya intelektual untuk menjawab problem-problem yang terjadi pada awal abad ini. Pragmatisme mulai dirintis di Amerika oleh Charles S. Peirce (1839-1942), yang kemudian dikembangkan oleh William James (1842-1910) dan John Dewey (1859-1952).[1]
Aspek pragmatis komunikasi berpusat pada perilaku komunikator sebagai komponen fundamental omunikasi manusia. Pragmatika berpandangan bahwa komunikasi dan perilaku sesungguhnya sama (anonym).
Istilah pargmatika berasal mula dari studi semiotics, namun prespektif pragmatis tidak memiliki hubungan dengan semiotics terhadap prinsip-prinsip teoris.
PRINSIP –PRINSIP PRGAMATIKA
Prinsip-prinsip dalam pragmatika umumnya secara langsung lebih banyak berasal dari teori sistem umum. (general system theory), campuaran , mutidisipliner,dari asumsi, konsep dan prinsip-prinsip.
Dalam kenyataannya, teori system barangkali merupakan persamaan yang keliru. Beberapa ahli menyatakan bahwa teori sistem merupakan penamaan yang keliru.
Mesarovic dan Wymore,menganggap bahwa teori sistem merupakan “teori formal”. Churchman lebih mengartikannya sebagai “pendekatan sistem”.
Secara singkat, pengertian teori sistem merupakan seperangkat prinsip yang terorganisasian secara longgar dan bersifat sangat abstrak, yang berfungsi untuk mengarahkan jalan pikiran kita, namun yang tergantung pada berbagai penafsiran.
POKOK-POKOK TEORI SISTEM
Prinsip ketidakmungkinan Dijumlahkan.
Prinsip yang pertama dari teori sistem ini adalah definisi sistem itu sendiri yaitu suatu totalitas, keseluruhan dari sesuatu. Rappport (1968:xvii) mendefinisikan sebagai “totallitas yang berfungsi sebagai eseluruhan karena adanya saling ketergantungan dari bagian-bagiannya. Hll dan Fagen menegaskan kembali prinsip keseluruhan (wholtenes) sebagai “seperangkat objek yang disertai hubungan antara objek-objek tersebut dan antara bagian-bagiannya.
Komponen-komponen dari sistem tidak memberikan corak kepada sifat sistemik keseluruhannya,akan tetapi, hubungan-hubungan yang saling tergantung komponen-komponennya. Memberikan kerakteristik sistem yang unik kepada keseluruhan.
Keseluruhan berarti sistem itu berlainan dari objek yang sama . Artinya, sistem itu berlainan dari penjumlahan objek atau komponen-komponen lain yang secara bersama-sama memberntuk suatu sistem yang bersangkutan.
Suatu sistem dapat memperoleh arti yang lebih jelas jika dibandingkan dengan sesuatu yang nonsistem (agregat atau tumpukan). Tumpukan tidak menunjukkan adanya saling ketergantungan hubungan antara komponen-komponennya sehingga tidak berfungsi sebagai wujud keseluruhan yang tunggal.
Struktur, fungsi dan evaluasi
Hubungan structural menunjukkan adanya hubungan ruang (spatial) diantara komponen-komponen dalam artian, di samping diatas dan di bawah, berhadapan dll.
Hubungan fungsional mengandung arti adanya hubungan yang beroientasi pada waktu di antara komponen-komponen. Dalam sistem social, hubungan fungsional berkaitan dengan tindakan, sehingga seseorang dapat diidentifikasikan hubungan fungsionalnya dengan orang-orang lain.
Hubungan evolusiner melacak seluruh sejarah sistem itu sepanjang waktu. Evaluasi suatu sistem mengandung di dalamnya hubungan structural dan fungsional, bersama-sama dengn perubahan dalam hubungan-hubungan itu yang terjadi selama perjalanan waktu. Sebagaimana yang dimaksudkan dalam evolusi, prubahan umumnya lebih berjalan secara bertahap (gradual) daripada secara mendadak ataupun segera.
Prinsip Keterbukaan.
Prinsip keterbukaan adalah lawan dari prinsip tertutup. Karakteristik dari teori ini adalah adanya pertukaran energy atau informasi yang bebas antara sistem yang terbuka dengan lingkungannya.
Sistem yang terbuka mempunyai daerah perbatasan yang dapat di tebus, yang memungkinkan pertukaran yang cukup dengan lingkungan tersebut.
IMPLIKASI
Prespektif pragmatis menyajikan alternatef paradigm yang sangat berbeda sifatnya jika dibandingkan dengan ketiga prespektif yang lain. Prespektif pragmatis sama sekali tidak mencerminkan aliran utama dalam perilaku dari teori atau pengkajian yang ada dalam masyarakat ilmiah komunikasi manusia, dalam persedurnya, implikasi prespektif meliputi :
Ekternalisasi
Komunikadi memusatkan perhatiannya pada perilaku, sehingga ungkapan klise yang berhubungan dengan komunikasi mulai menerima makna baru.
Probabilitas stokatis
Probabilitas stokatis adalah analisis data penelitian dalam ilmu-ilmu social mempergunakan tatistika inferensial dan seringkali desain-desain ekperimental.
Analisis kualitatif
Pedoman analisis kualitatif ini diarahlkan untuk menyamakan analisis kualitatif dengan setting dan metode lapangan. Penelitian fenomena social biasanya memakai analisis kualitatif ini untuk penelitan masalag social. Bagian ini menggambarkan secara garis besar beberapa masalah kualitatif yang penting
Analisis kualitatif pada sistem komunikasi secara jelas merupakan metodologi penelitian yang utama yang ditekankan dalam rangka prespektif pragmatis. Analisis kualitatif mencangkup pengelompokan semua tindak komunikasi yang dilaksanakan oelh perilaku komunikatif
Konfleksitas konsep waktu
Dalam kerangka prespektif pragmatis, waktu menjadii semakin lebih kompleks dan semakin menjadi bagian yang intergral dalam komunikasi manusia.Prespektif pragmatis lebih mengandalkan konsep rwaktu.
Konseptualisasi waktu dari prespektif pragmatis, sebagai konsep yang memiliki komplektualisasi waktu dai prespektif pragmatis sebagai konsep yang memiliki kompleksifitas yang lebih besar. Berkenaan dengan waktu yang konstan secara fisik. Sebagai contoh, satu menit sama dengan enam puluh detik Dalam perspektif pragmatis komunikasi manusia, waktu berjalan lebih cepat dan lambat. Ketika kita berbincang dengan seornag kawan yang akrab, maka waktu dirasa begitu pendek. Sedangkan ketika berbincang dengan seorang kawan yang membosankan maka yang dirasakan adalah waktu teras begitu lama.
Komunikasi Interperpersomal massa,
Dalam Komunikasi manusia , prespektif pragmatis bertindak sebagai kerangka untuk mempersatukan berbagai pendekatan komunikasi yang berlainan. Dalam bidang yang berlaianan memungkinkan penerapan dalam perspektif pragmatis bertindak sebagai kerangka untuk mempersatukan berbagai pendekatan komunikasi yang berlainan.
KESIMPULAN
Prespektif Pragmanis menekankan pada urutan interaksi yang sedang berjalan, yang membatasi dan menefinisikan sistem social ,merupaka pemindahan dari penekanan prespektif interaksional pada pengambilan peran yang di internalkan.
Prespektif pragmatis menyatakan fungsi yang dilakukan oleh manusia dan yang memungkinkan tindakan komunikatif diulang kembali pada saat yang berlainan.
Penelitian dalam prespektif pragmatis masih sangat beru dan masih agak jarang.Penelitian dalam sistem prespektif pragmatis dalam komunikasi manusia mencerminkan pertumbuhan yang pesat dari sistem kategoriuntuk menganalisa fungsi komunikatif dan lebih mencerminkan perhatian yang khusus dan unik dari setiap peneliti daripada sekadar suatu pengkajian paradigmatik yang jelas tegas tentang fenomena komunikatif yang dilaksanakan oleh sebagian besar masyarkat.
Mengkonseptiualisasikan komunikasi dari prespektif pragmatis sama saja dengan memperbaharui secara drastis pola pikiran yang semula tentang komunikasi. Akan tetapi untuk mengkonseptualisasikan komunikasi sebagai suatu tindakan “partisipasi” atau “memasuki” suatu komunikasi ataupun hubungan memerlukan “goncangan” pada cara berfikir kita yang tradisional. Mengenal cara-cara berfikir dan menggunakan berbagai perspektif merupakan suatu tanda seseorang yang terpelajar.
PERSPEKTIF INTERAKSIONAL
Fisher menggunakan istilah perspektif interaksional untuk menunjukkan pandangan komunikasi manusia yang telah berkembang secara tidak langsung dari cabang sosiololgi yang dikenal sebagai interaksi simbolis. Perspektif interaksional tentang komunikasi manusia seyogyanya jaganlah ditafsirkan sebagai pengaplikasian interaksi simbolis pada komunikasi. Akan tetapi, hendaknya dipandang bahwa sejumlah penghampiran tentang studi komunikasi manusia nampaknya mencerminkan beberapa asumsi yang secara filosofis sama.
Karakterisme Interaksionisme
Perspektif interaksional menonjolkan keagungan dan nilai individu di atas segala pengaruh yang lainnya. Manusia dalam dirinya memiliki esensi kebudayaan, saling berhubungan, bermasyarakat, dan buah pikiran. Tiap bentuk interaksi social itu dimulai dan berakhir dengan mempertimbangkan diri manusia. Inilah karakteristik utama dari perspektif ini.
Hakikat “Diri”
Dalam diri tiap individu, pewujudan “diri” menunjukkan eksistensi “saya (I)” dan “aku (me)”. “Saya” merupakan bagian yang aktif dari diri yang mampu menjalankan perilaku perilaku. “Aku” mewujudkan dalam diri konsep tentang “yang lain.” Singkatnya, “saya” tidak dapat diramalkaan. Sedangkan “aku” dapat diramallkan. Karena “aku” memberikan kepada “saya” arah dan berfungsi untuk mengendalikan “saya”, yang hasilnya membuat perilaku manusia mudah untuk diramalkan. Karena itu, dalam kerangka pegertian tentang diri terkandung esensi interaksi social—interaksi antara “saya” dan “aku”—perwujudan diri dan yang lain didalam diri tadi. Secara sederhana, “aku”, melalui pengamatan diri sendirei atas berbagai tindakan dan dengan jalan menghubungkannya pada pengamatan yang silam pada tindakan yang lain, membentuk perilaku “saya.”
Hakikat Lambang
Mead membedakan antara dua tingkat interaksi – isyarat dan lambang. Blumer mengartikan tinkat-tigkat ini sebagai interaksi yang nonsimbolis dan interaksi yang simbolis. Baik bagi Blumer maupun Mead perbedaan itu sama. Suatu Isyarat,atau yang bukan lambing,merupakan tindakan impulsive dan bersifat spontan,dalam arti respons reflex. Sebagai contoh,jika saya menempelkan tangan saya kepada sebuah api yang panas,saya akan langsung menariknya kembali-tanpa berpikir dahulu. Yang menjadi inti dari interaksi nonsimbolis adalah ketiadaan proses interpreatif.
Mead menggambarkan dengan jelas bahwa arti lambang sepenuhnya tergantung pada kemampuan individu dalam menempatkan dirinya dalam peranan “orang lain” . arti lambang secara langsung dihubungkan dengan dengan kebersamaan atau keumuman proses penafsiran (yang ada).
Hakikat Tindakan Manusia
Hakikat tindakan manusia ini menunjuk pada pengambilan peran dari setiap individu. Dalam proses pengambilan peran ini, individu dapat mengambil peran orang lain. Bentuk pengambilan peran yang paling informative adalah peran generaliz other. Peran ini mencerminkan umumnya para warga masyarakat atau kultur tempat individu itu mengidentifikasika dirinya.
Hakikat Tindakan Sosial
Pada waktu individu itu mengambil perannya, ia dapat mengizinkan “orang lain” untuk mengarahkan tindakan individualnya sehingga, tindakan beberapa orang atau lebih menjadi saling terstruktur satu dengan yang lainnya untuk membentuk tindakan kelompok; yakni individu pengambil peran menyelaraskan tindakannya dengan tindakan orang lainnya, bahkan dengan generalized other.
Blumer (1969:2) telah mengemukakan tiga buah “premis sederhana” yang menjadi dasar interaksionalisme simbolis. Ketiganya berfungsi sebagai ringkasan tentang posisi filosofis/teoritis dari interaksi simbolis. (1) “Manusia bertindak terhadap hal-hal atas dasar makna yang dimiliki oleh hal-hal tersebut.” (2) Makna ini berkaitan langsung dengan “interaksi social yang dilakukan seseorang dengan tgeman-temannya.” (3) Makna ini diciptakan, dipertahankan, dan diubah melalui “proses penafsiran yang dipergunakan orang tersebut dalam berhubungan dengan hal-hal yang ia hadapi.”
Model Interaksional
Diri/yang lain
Yang Lain/Diri
Objek
Konteks Kultural
Gambar : Model Interaksional Komunikasi Manusia
Pertama-tama, model ini mengemukakan adanya pemisahan diri, orang lain dan objek, yang dalam realitasnya, orientasi terhadap ketiganya bersifat simultan dan tak dapat terpisahkan, masing-masing mempengaruhi dan dipengaruhi oleh yang lainnya. Model ini menggambarkan kemanunggalan yang unidimensional dari diri, orang lain, objek, dan konteks kultural, yang jelas tidak mencerminkan realitas. Komunikator interaksional merupakan penggabungan yang kompleks dari individualisme sosial, yakni seorang individu yang menmgembangkan potensi kemanusiawiannya melalui interaksi sosial. Komponen berikutnya dalam pengambilan peran dari perspektif interaksional adalah orientasi. Selanjutnya, yang juga berperan dalam perspektif ini adalah keseearahan (congruence), dan yang terakhir adalah lambang.
Tempat (Lokus)-Pengambilan Peran
Perspektif interaksional tentang komunikasi manusia amat sering dinyatakan sebagai “komunikasi dialogis” atau komunikasi yang dipandang sebagai dialog. Komunikasi sebagai monolog (lawan dari dialog) mengandung pandangan mekanistis tentang seseorang (atau suatu lingkungan) “yang sedang melakukan sesuatu atas” orang yang lainnya.
Implikasi
Perspektif interaksional merupakan reaksi humanistis terhadap dan psikologi S-R. Sebagai reaksi yang negatif, terdapat banyak implikasi yang mencerminkan pencaharian sesuatu yang baru dalam pengertian apa yang disebut oleh Matson dan Montagu (1967: 1-11) sebagai ”suatu revolusi yang belum selesai”
Mencari Pengertian Diri
Kesadaran yang makin meningkat tentang diri (self) telah mendorong gejolak minat penelitian dewasa ini pada fenomena pengungkapan diri. Pengungkapan diri dapat didefinisikan, sekalipun secara luas, sebagai penyingkapan informasi tentang diri yang pada saat lain tidak dapat diketahui oleh pihak yang lain. Sebagian besar penelitian tentang pengungkapan diri ini cenderung menggunakan penjelasan psikologis dengan sifat-sifat psikologis. Erat kaitannya dengan komunikasi pengungkapan diri adalah aspek keakraban (intimacy).
Peran Peneliti (dan Penelitian)
Umumnya penelitian komunikasi yang mencerminkan perspektif interaksional terdiridari kelompok studi yang relatif terpisah-pisah dalam kerangka studi yang luas, yang berorientasi pada prinsip yang sama.
Kebersamaan (Sharedness)
Bagi sebagian orang kata Kebersamaan atau Sharedness mengandung konotasi sudut tinjauan atau teori komunikasi manusia yang bersifat menyeluruh. Prinsip “kebersamaan” merupakan kemampuan manusia yang unik,memang binatang dapat memberikan respons kepada perilaku binatang lainnya dan bahkan dapat “berkomunikasi” dalam pengertian menyampaikan pesan kepada yang lain. Namun hanya manusia yang dapat mengembangkan hubungan simbolis. Kebersamaan bukan hanya melibatkan tindakan saja,bahkan lebih dari itu semua,kebersamaan menciptakan pengalaman tunggal yang melibatkan semua pihak yang berpartisipasi dalam pengalaman itu. “Makna” kata-kata atau tindakan benar-benar tidak dapat ditentukan kecuali atau sehingga ditafsirkan-tidak dalam pengertian persepsi individual secara psikologis akan tetapi secara interaksional di dalam keadaan timbale balik pengalaman itu sendiri.
Ringkasan
Meskipun asal mula perspektif interaksional komunikasi manusia dapat ditelusuri sampai kefilsafat ekstensialisme dan bahkan ke Socrates, sumbernya yang khusus dan komprehensif dari perspektif ini secara langsung ataupun tidak langsung adalah interaksional komunikasi manusia. Secara lebih khusus lagi, arah perkembangan dalam masyarakat ilmiah komunikasi manusia yang memperlakukan komunikasi sebagai dialog adalah adanya indikasi yang terang sekali dari pendekatan interaksional pada studi komunikasi manusia.
Perspektif interaksional menekankan tindakan yang bersifat simbolis dalam suatu perkembangan yang bersifat proses dari komunikasi manusia. Penekanannya pada tindakan memungkinkan pengambilan peran untuk mengembangkan tindakan bersama atau mempersatukan tindakan individu dengan tindakan individu- individu yang lain untuk membentuk kolektivitas. Tindakan bersama dari kolektivitas itu mencerminkan tidak hanya pengelompokan sosial akan tetapi juga adanya perasaan kebersamaan ataupun keadaan timbal balik dari individu- individu yang bersangkutan, yang dilukiskan dalam model sebagai “kesearahan” orietasi individu- individu terhadap diri orang lain, dan objek.
PERSPEKTIF PSIKOLOGIS
Menelusuri permulaan pengaruh psikologi pada studi komunikasi manusia tidak dapat dihindari lagi menjadi arbitrer (tidak semena-mena). Kapanpun dimulainya pengaruh psikologi pada komunikasi ini berlangsung, perspektif psikologi barangkali merupakan perspektif komunikasi yang paling populer dewasa ini ; yakni, makin banyak orang yang menyatakan diri peneliti komunikasi sebagai disiplin untuk studi empiris juga akan menemukan perspektif ini paling sama dengan sudut tinjauan mereka sendiri.
Karakteristik Penjelasan Psikologi (Tentang Komunikasi)
a. Penerimaan Stimuli oleh Alat-alat Indra
Sebagai manusia, kemampuan kita terbatas oleh lima alat indra ; yakni penglihatan, pendengaran, penglihatan, penciuman, perabaan, dan perasa. Da apapun yang masuk ke dalam tubuh kita dinamakan stimuli. Stimuli memberikan input kepada alat-alat indra, dan memberikan data yang dipergunakan dalam penjelasan tentang perilaku manusia. Memandang stimulus sebagai objek lingkungan membawa kita kepada penjelasan yang bersifat semidetermenitis di mana lingkungan memberikan kesan atau mempengaruhi manusia yang tinggal di dalamnya.
Yang kedua, stimulus tidak dipusatkan pada objek-stimulus itu sendiri, namun pada dampak objek tersebut pada alat indra, misal pola visual pada retina, atau getaran pada gendang telinga.
Yang ketiga, campuran dari kedua stimulus diatas, yang merupakan kesimpulan yang ditarik langsung dari objek lingkungan atau pola penginderaan.
b. Mediasi Internal Stimuli
Istilah S-R yang sudah diubah menjadi S-O-R bukan tanpa alasan. Perilaku manusia tidak bisa dijelaskan hanya sekedar stimuli, langsung menuju respon. Namun ada organisme, yang disebut dengan black box. Black box adalah struktur khusus dan fungsi proses antara yang internal dipandang kurang penting dibandingkan dengan proses pengubahan masukan menjadi keluaran. Black box ini antara lain seperti apa yang terjadi dalam diri kita ; persepsi, pendengaran, pemikiran, dan lain-lain.
c. Peramalan Respons
Respon bisa diramalkan, setidak-tidaknya sebagian, dari respons yang lalu menunjukkan adanya suatu segi menarik yang lain dari penjelasan S-R – konsep penyimpanan memori dari respons masa silam dalam organisme. Dimana, respons yang sekarang sangat tergantung dari stimulus yang terjadi di masa lampau dan pengalaman-pengalaman yang mengiringi hingga sekarang. Apakah ada yang berubah, atau tidak.
d. Peneguhan (Reindorcement) Respons
Dengan menambahkan prinsip peneguhan pada hubungan S-O-R ini, memungkinkan peristiwa masa kini mempengaruhi masa silam atau peristiwa di masa depan mempengaruhi masa kini. Jika peneguhan itu secara konsisten memberikan ganjaran pada respons tertentu, maka kita idak boleh menghipotesiskan (secara sederhana) bahwa hubungan S-O-R yang tertentu akan diperteguh. Sebaliknya, jika peneguhan yang berikutnya secara konsisten menghukum respons tertentu situasi stimulus yang tertentu, maka hubungan S-O-R tersebut akan melemah dan akhirnya mengarah pada peniadaan respons sama sekali.
MODEL PSIKOLOGIS
Secara khusus, model psikologis berfokus pada sumber penerima, manusia itu sendiri secara individual, dan menyelami susunan kognitif dan afektif dari pihak yang berkomunikasi.
a. Komponen-komponen Khasnya
Orientasi S-R cukup menonjol dalam perspektif psikologis tentang komunikasi manusia. Pertama, perspektif ini menganggap bahwa manusia berada dalam suatu medan stimulus, yang secara bebas disebut sebagai suatu lingkungan informasi.
Di sekeliling setiap orang terdapat arah stimuli yang hamper tidak terbatasi jumlahnya, semuanya diproses melalui organ-organ indra penerima. Semua stimulus ini bersaing untuk diterima karena banyaknya melebihi kapasitas manusia untuk menerima dan mengolahnya.
Manusia yang sedang berkomunikasi tidak hanya menerima stimuli tetapi juga menghasilkan stimuli – jadi, manusia adalah makhluk yang berfungsi ganda, yakni sebagai penerima dan penafsir stimuli informasional.
Filter berfungsi untuk menyaring stimuli informasi yang ada. Filter ini merupakan keadaan internal dari organism manusia dan secara esensial merupakan konsep “kotak hitam”. Filter digambarkan sebagai sikap, keyakinan, motif, dorongan citra, kognisi, konsep diri, tanggapan, orientasi, set, atau sejumlah konstruk hipotesis lainnya. Cara kerjanya hanya dapat diamati dari respon yang dikeluarkan melalui stimulus yang masuk.
“R”, dalam model dijelaskan sebagai respons. Respons merupakan seperangkat stimulus informasi yang terstruktur yang dikenal sebagai isyarat dan symbol yang dihasilkan oleh komunikastor dan dapat dipengaruhi oleh respon diskriminatif berikutnya oleh penafsir lainnya.
b. Lokus – Filter Konseptual
Lokus komunikasi dalam perspektif psikologis jelas-jelas dan secara konsisten berada dalam diri individu , keadaan internal organisme yang bersangkutan. Proses penerimaan stimuli melalui filter konseptual merupakan proses penafsiran. Si penafsir harus mengidentifikasikan menstruktur, atau mengorganisasikan, dan membedakan stimuli yang diterimanya. Dengan jalan ini, penafsir memberikan makna kepada stimuli, yang dapat dikatakan penyandian atas suatu pesan.
IMPLIKASI
a. Orientasi Penerima
Model psikologis komunikasi dari Fearing (1953) memasukkan konsep “maksud” sebagai sesuatu yang terkandung dalam situasi komunikatif. Dengan ‘maksud’, Fearing mengartikannya bahwa komunikator menstruktur dan mengarahkan isi stimuli pesan dengan memikirkan si penafsir. Penafsir “ terus-menerus” berada dalam medan psikologis komunikator”. Hasilnya adalah suatu pandangan tentang penerima sebagai peserta yang sama-sama aktif dalam proses komunikatif dan peserta yang dapat mempengaruhi peristiwa dan stimuli informasi. Ini semua karena kemampuan konseptual komunikator sangatlah terbatas.
b. Tingkat Intrapersonal
Dalam perspektif psikologis, Mortensen (1972, bab 4) mengemukakan bahwa komunikator dapat ditinjau dari segi orientasinya – melihat pada dirinya sendiri (self directed), melihat pada orang lain (other directed), dan koordinasi (yakni berorientasi yang sama baik kepada diri sendiri maupun orang lain sehingga menjadi kesauan yang ketiga).
Bilamana lokus komunikasi manusia itu terdapat dalam diri individu, tingkta intrapersonal itu sendiri menjadi sangat kuasa. Yang sangat penting adalah filter konseptual – bagaimana diperolehnya, bagaimana mengolah data pengindraan, bagaimana diubahnya, bagaimana mempengaruhi respons pelaku, dan seterusnya.
c. Hubungan Sikap dan Perilaku
Dalam suatu survey tentang studi psikologis sikap dan perilaku, Wicker (1969) sampai pada kesimpulan yang sama – bahwa hasil penelitian telah memperlihatkan tidak ada konsistensi yang jelas antara sikap yang sifatnya tersembunyi itu dan perilaku yang sifatnya terbuka. Masalah ini terkenal secara populer sebagai “kesenjangan (discrepancy) antara sikap-perilaku.” Hakikat sebenarnya dari hubungan ini (atau kurang adanya hubungan ini) belum dapat diketahui walaupu para ahli komunikasi , antara lain, Burhans (1971), Larson dan Sanders (1975), telah melakukan berbagai usaha untuk memcahkan kesenjangan tersebut .
d. Kuasi-Kasualitas
Model fundamental bagi pengkajian tentang keadaan internal organism ( filter konseptual individu) adalah paradigm masukan-keluaran. Biasanya si peneliti mengenakan pada subjeknya variabel stimulus yang terkendali dan kemudian mencoba mengamati hasil modifikasi variabel respons atau perubahan internalnya. Sebagai konsekuensinya, si peneliti menganggap adaya kelinieran tertentu antara (1) stimulus dan respons yang diantara oleh filter konseptual atau (2) filter konseptual dan perilaku berikutnya yang seringklai dipercepat oleh stimuli yang semula.
Ukur apa yang masuk dan amati apa yang keluar. Hasilnya adalah inferensi tentang apa yang terjadi di antaranya (throughput). Informasi mengalir secara searah ke muka menurut waktu dan diubah secara sistematis oleh konsep black box yang bersifat sebagai perantara dalam diri individu. Paradigmanya memang linier dlam hubungan waktu dan menyerupai sejenis asumsi yang linier atau kuasi-kasual.
e. Pengembangan Alat-alat Ukur
Adanya kesukaran untuk mengukur konseptual dalam mengamati objek yang secara langsung tidak dapat diamati, seperti apa isi kepala orang, apa yang ada di dalam hati orang, dan lainnya. Hal ini lah yang menyebabkan sulinya menetapkan tolak ukur terhadap konseptual black box.
f. Selektivitas Informasi
Para komunikator secara aktif mengendalikan informasi yang mereka olah. Taktik pengontrolan yang paling penting adalah seletivitas, dimana individu hanya memilih informasi apa yang ingin diterimanya, informasi apa yang diingatnya, dan informasi apa yang ingin disalurkan kepada orang lain.
Seletivitas dijelaskan sebagai alat pertahanan ego, dimana individu mencari informasi yang berbanding lurus dengan keyakinan sebelumnya dan menyimpan (mengingat) informasi yang konsisten dengan keyakinan semula, sehingga informasi yang berbeda terlupakan oleh mereka. Faktor lain, seperti kepercayaan terhadap keyakinan yang dimiliki, relevansi atau pentingnya keyakinan, daya guna informasi, dan kompromi pada tekanan sosial, juga iket berintegrasi dengan proses seleksi individu.
Kemampuan selektif individu, melalu penggunaan filter konseptual perantara dan set psikologis, merupakan variabel penting dalam penelitian komunikasi dari perspektif psikologis.
DAFTAR PUSTAKA
1. http://denontarr.blogspot.com/2008/11/perspektif-komuniaksi-b-aubrey-fisher.html (23.42 WIB)
2. ibid
3. http://isyraq.wordpress.com/2007/08/28/epistemologi-teori-ilmu-pengetahuan/ (23.44 WIB)
4. http://bachtiarhakim.wordpress.com/2008/04/02/mahzab-frankfurt-dan-chicago-ringkasan/ (23.45 WIB)
5. http://bachtiarhakim.wordpress.com/2008/04/02/mahzab-frankfurt-dan-chicago-ringkasan/ (23.45 WIB)
6. http://bachtiarhakim.wordpress.com/2008/04/02/mahzab-frankfurt-dan-chicago-ringkasan/ (23.45 WIB)
7. http://denontarr.blogspot.com/2008/11/perspektif-komuniaksi-b-aubrey-fisher.html
8. http://bachtiarhakim.wordpress.com/2008/04/02/mahzab-frankfurt-dan-chicago-ringkasan/
9. Fisher, B. Aubrey. Teori-Teori Komunikasi. 1986. Bandung : Remadja Karya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar